"cerita ini berdasarkan fakta yang terjadi di dunia nyata (baca: di kehidupan SMA ku)" Berawal ketika aku mulai menginjak bangku SMA, kelas X di sebuah SMA ternama di kota Jogja. Awalnya memang kurang sesuai harapanku ; aku masuk di sekolah yang tidak pernah aku perkirakan sebelumnya yaitu di SMA pilihan keduaku. Bagiku tidak masalah, karena semua sekolah pada dasarnya sama: ada guru,kelas,buku,perpus,dll.
Awalnya aku merasa agak minder ; terlempar dari sekolah rencana awal, tapi di satu sisi aku juga merasa bangga ;termasuk ranking 15 besar pada waktu penerimaan. Kudengar, di sekolah ini diadakan program SBI (Sekolah Bertaraf Internasional-atau
bertarif Internasional ?) yang menurutku lumayan berprospek. Kenapa? Karena pelajaran yang akan dipelajari akan disaji secara bilingual sehingga kemungkinan ada prospek untuk bisa melanjutkan sekolah di luar negeri nantinya. Untuk mengikuti program SBI, para siswa yang sudah melakukan daftar ulang diharuskan untuk mengikuti serangkaian tes. Tes tersebut antara lain tes psikologi dan tes TOEFL yang akan diadakan sebelum acara MOS (Masa Orientasi Siswa). Seingatku, tes tersebut diadakan dua hari berturut-turut, hari Selasa dan Rabu pagi (tanggal pastinya aku lupa) di Ruang Multimedia dan dimulai pukul 8 WIB.
Hari Selasa pagi aku datang ke sekolah untuk mengikuti tes tersebut. Tidak begitu telat menurutku, tetapi sudah hadir para pesaingku di sana. Sepintas aku lihat,
Yanuar Kharismawan,
Bagaskara dan
Metta dari sekian banyak teman-temanku semasa SMP yang mengikuti tes tersebut. Kursi-kursi depan sudah penuh sesak terisi para peserta tes. Jadilah aku duduk pada kursi paling belakang bersama Bagas dan Metta.
Tidak lama, soal tes dibagikan oleh para petugas yang hampir kesemuanya manusia paruh baya , salah satunya seorang lelaki tua berkacamata dengan wajah yang masam. Dia yang paling menyebalkan menurutku; banyak cincong dan selalu bernada gusar dalam memberikan penjelasan seolah para peserta adalah anak idiot.
Pukul 8.20 WIB, tiba-tiba ada seorang peserta masuk ke dalam ruangan,memecah keheningan. Orang tersebut berpakaian kemeja kotak-kotak berwarna kuning serta celana jins. Dia adalah anak lelaki yang nantinya dikenal dengan nama
Hatas Adityo. Kemunculannya yang terlambat tersebut tak pelak mengudang kegusaran dari panitia. Tapi anak tersebut hanya menanggapinya dengan menyeringai. Setelah mendapatkan kertas soal beserta lembar jawab dari panitia, ia beranjak menuju deretan kursi belakang. Akhirnya ia duduk bersebelahan denganku. Yang membuatku sedikit gemas: Hatas datang terlambat serta tidak membawa peralatan tulis sepotongpun meski akhirnya mendapat pinjaman dari peserta lainnya.
Pukul 12 tes hari pertama selesai. Tidak begitu susah, namun otakku serasa diperas (berulang kali dipaksa untuk berkonsentrasi penuh dengan waktu istirahat yang sedikit).
Hari kedua Tes.
Tes pada hari kedua adalah tes TOEFL. Pukul 7 pagi aku bangun ,mandi, sarapan, dan mempersiapkan segala tetek bengeknya untuk tes tersebut. Rencanaku sudah matang : 8 kurang 20 aku akan berangkat ke sekolah. Tapi emang dasar perutku eror atau apa, akhirnya 8.15 WIB aku baru berangkat dari rumah. Perjalanan hanya memakan waktu 10 menit. Sesampainya di sekolah, seperti biasa sekolah sepi (masih di hari libur). Ku parkir motorku di dekat Pos Satpam, dan aku berlari menuju Ruang Multimedia. Dari lorong, kulihat dari kejauhan, di depan Ruang Multi ada beberapa orang seperti menunggu sesuatu. Setelah kudekati ternyata seorang lelaki paruh baya terlihat berjaga di depan pintu-lelaki tersebut memakai kacamata. Lalu di dekatnya terdapat seorang anak lelaki gemuk (yang aku kenal sebagai Alfian Hakim nantinya) yang duduk di selasar, serta seorang ibu dan anak perempuannya yang duduk di bangku tak jauh dari pintu masuk Ruang Multimedia. Ada rasa heran timbul dibenakku: tumben ada yang malas ikut tes. Tanpa basa-basi kutanya bapak yang berjaga di depan pintu : "Pak, boleh masuk tidak?" dia membalas: "Mau ikut tes?" Ya, jawabku dalam hati sambil mengangguk pelan. Lalu dia bukakan pintu Ruang Multi dan menanyai seorang ibu (guru) yang berkerudung : "Ini ada yang telat, boleh ikut ga?" , ibu itu menjawab: "wah, sudah mulai ini, nanti mengganggu konsentrasi". Rasa heran berubah menjadi panik secara tiba-tiba. Lalu bapak itu menutup pintu dan menanyaiku : "kenapa telat?" , kujawab:"saya mencret pak". Lalu terjadi sedikit perbincangan yang menurutku hanya buang-buang waktu. Lalu kutanya sekali lagi : "pak, terus kalo telat bisa nyusul ga?" , bapak itu hanya tersenyum kecut dan menjawab : "lebih baik kamu menunggu seperti mereka" sambil menunjuk Alfian serta Ibu dan anak yang duduk di bangku.
Aku merasa agak jengkel, bapak ini tidak memberikan solusi yang pasti. Akupun duduk di sebelah Alfian dan mulai berkenalan dengannya. Kami hanya sedikit berbicara sambil memandangi lapangan basket (waktu itu aku lihat beberapa kakak kelas perempuan sedang mempraktekkan gerakan aneh-yang akhirnya kusadari beberapa bulan setelahnya bahwa itu adalah gerakan formasi tonti). Aku banyak termenung. Akhirnya aku tidak tahan lagi. Setelah 1 jam berlalu, aku kembali menghampiri bapak tadi. Kali ini dia sedang diajak berbicara dengan seseorang yang kupikir adalah orang tua siswa. Aku tunggu jedanya, lalu kutanya bapak yang membuatku jengkel tersebut : "pak, ini jadinya gimana? bisa ikut tes ga?" dan yang kuingat, jawaban dari bapak itu hanya semakin menyulut emosiku saja. Akhirnya dengan segenap emosi yang meluap-luap aku berkata kepadanya, agak bernada marah: "Ya sudah kalo begitu saya pulang saja! Kayaknya ga ada gunanya lagi aku nunggu di sini! " Akupun berlalu dengan wajah merah padam, kutancap gas dan pulang ke rumah.
*akhirnya, kuketahui bahwa bapak yang menyebalkan itu bernama
Heru Adi, seorang guru bahasa Inggris di sekolah itu.